puisi 5
KULI 2 Diantara material bangunan berserakan Kuhirup udara panas matahari Kucium bau adonan semen Dan bau keringat bercucuran Kutolehkan kepalaku pada matahari Tak kuat mataku menatap sinarnya Tertunduk kepalaku menghadap tanah Kulihat semen, pasir dan air Di telapak kaki Keringat meleleh diatasnya Sementara jangat sekujur badan Telah terpanggang bersama angin Dan tanah yang membara Kuteringat padamu wahai istriku Wajahmu tersenyum, tergambar di otakku Terseyum aku dapati kenyataan itu Tanganmu yang terbuka menyambutku Semakin membusungkan dadamu Yang memang berisi Semangatku bangkit lagi Kepalaku kuangkat lagi Menyempit mataku menatap matahari Namun kali ini berbeda tampaknya bola mataku bertahan lebih lama Menatap sinar dan panasnya surya Tubuh dan wajah istriku yang berseri Mendorong urat saraf badan Agar menatap panas tanpa henti Aku menunduk lagi Tajam mataku menatap bumi Adonan semen terkapar di mata kaki S...